Menkop Harap Wirausaha Pemula Dirikan Koperasi

0
127

Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga berharap para wirausaha pemula membentuk atau bergabung dalam satu koperasi, agar usaha mereka lebih berkembang dan bisa  memanfaatkan peluang.

“Misalnya, ada wirausaha pemula yang membutuhkan bahan baku, koperasi yang akan menyiapkannya, termasuk bahan baku dari impor. Koperasi juga yang akan memasarkan produk hasil para wirausaha pemula,” kata Puspayoga dalam keterangan tertulis yang diterima GATRAnews di Jakarta, Jumat (7/4).

Puspayogo mencontohkan 300 perajin dari tembaga asal Dusun Tuman, Boyolali, Jawa Tengah. “Produk mereka diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat. Sementara bahan baku tembaganya diimpor dari Bulgaria. Koperasi yang akan menyiapkan bahan bakunya,” kata dia.

Puspayoga menyampaikan harapan tersebut dalam acara Temu Konsultasi KKMB dan Temu Usaha Wirausaha Pemula, di Jakarta, Kamis (6/4). Acara ini dalam rangka meningkatkan daya saing koperasi dan UMKM di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Selain itu, Puspayoga juga mengharapkan para wirausaha pemula bisa memanfaatkan KUR Berorientasi Ekspor (KURBE) dalam mengembangkan kualitas produk dan jaringan pemasarannya.

“Bea impor bahan bakunya gratis, begitu juga ketika akan ekspor. Dengan bea impor dan ekspor gratis, maka biaya produksi otomatis menurun. Sehingga, daya saing produk UMKM atau WP kita akan meningkat. Itu tujuan utamanya, yaitu meningkatkan daya saing,” ujarnya.

Puspayoga berharap pihaknya bisa bekerja sama dengan PT Sarinah untuk membantu pendanaan para UMKM yang berorientasi ekspor. “Misalnya, ketika UKM melakukan ekspor atas produknya, sebelum buyer membayar yang tenggatnya bisa sampai enam bulan, ketika si UKM akan memproduksi lagi dari mana uangnya? Ini yang harus kita kaji bersama, salah satunya bekerja sama dengan PT Sarinah,” katanya.

Dalam acara tersebut, Zarial Akbar, salah satu peraih wirausaha pemula tahun 2013 asal Aceh, menyampaikan pengalamannya tentang usaha warung coklat miliknya yang berkembang setelah mendapat permodalan wirausaha pemula sebesar Rp 22 juta dari Kemenkop dan UKM.

“Omset sebelum wirausaha pemula hanya Rp 15 juta per bulan. Setelah lima tahun mendapat program wirausaha pemula, omset usaha makanan dan minuman coklat saya meningkat menjadi Rp 100 juta per bulan,” ujar Zarial.

Terkait bahan baku coklat, Zarial mengaku bahwa dirinya tidak mengalami kendala apapun. Pasalnya, bahan baku kakao cukup tersedia berasal dari Sumut dan Lampung. Tahun ini, usahanya akan merambah ke produk body and care berbahan coklat.

“Hanya saja, bahan baku yang kami peroleh masih dalam bentuk bahan mentah, sehingga kami harus mengolahnya terlebih dahulu sebelum menjadi bahan baku produk coklat,” kata Zarial.

Atas masalah bahan baku tersebut, Puspayoga meminta jajarannya untuk memikirkan dan mencari solusi. “Kalau kakao itu sudah diolah terlebih dahulu, maka harganya akan jauh lebih murah dari sisi biaya transportasi ke UKM,” katanya.

Puspayogo menambahkan, “Harus kita pikirkan bagaimana agar bahan baku di hulu itu diolah terlebih dahulu sebelum sampai ke produsen coklat UKM. Kita harus berkoordinasi dengan kementrian lain mengenai masalah tersebut,” katanya.

Sumber Gatra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seven + 18 =